Rabu, 25 Februari 2009
I just noticed that I have this weird habit..
How bizarre.
Kamis, 05 Februari 2009
My Dad's B'day (the E-mail - End)
I sent a "Thank You" e-mail the very next day. And this was his reply:
date:Mon, Jan 12, 2009 at 12:39 PM
subject Re: Thank You
The pleasure was mine, and Yvonne's. Pssst, Michelle is my "selingkuhan" ... He he he ...
I wish had a daughter like you. When I made the decision to participate, it was more because of you. I thought, well, a daughter who went the extra mile to make her Dad happy deserves not just a pat on the shoulder. Of course, there are other things to do on my part. But, what I experienced last night was among the highlights that I would remember for a long time. I never regretted what I did, and I thanked the Lord for the good time I had with your family and friends.
You must be a special daughter for your parents. I'm proud of you, and glad to be part of your "plot" to surprise Dad.
Keep up the good works.
Yvonne + Bondan
Just trying my best to please my parents while I can.. And I'm glad to know you, sir..
MY Dad's Bday (the Menu - Part 3)
Ohhhh sampai menit2 terakhir menu belum fixed. Tadinya, saya kekeuh ingin menghidangkan makanan-makanan khas kota kelahiran dan asal ayah saya yang sudah langka, Tegal dan Pekalongan. Sempet menggali-gali ayah mengenai makanan kesukannya waktu kecil, etc. Tapi makkkkk... di Jakarta ini, dengan ribuan so called "WARUNG TEGAL", none of them yang menyajikan makanan ASLI tegal. Saya sampai research di internet, masuk ke komunitas orang tegal dengan bahasanya yang 'ajaib' itu, hahahaha, none of them worked. Kalaupun nemu restoran, mereka hanya menyajikan menu standar seperti nasi lengko. Akhirnya saya memutuskan menu tidak lah harus berasal dari Tegal ataupun Pekalongan, yang penting asli Indonesia. Atas saran tante, saya ker Rumah Makan Ibu Endang di Jl. Wijaya 1, lalu sisanya saya pesan ke teman dan tante Mimis (must thank you so much for all your help that night).
Berikut menu sederhana makanan malam itu:
Welcome drink: Es Teh Sereh
Welcome snack: Tahu Aci khas Tegal
Makanan Utama:
- Soto Pekalongan (Tauto) resep Nenek saya
- Sate Ambal khas Kebumen pesan dari mamanya Uga
- Pecel Madiun lengkap sumbangan tante Mimis dengan daun turi dan daun kecombrang yang sedap nan ajaib aromanya fresh dipetik dari kabon Tante Mimis plus tahu tempe bacem
- Gadon daging dari RM Ibu Endang
- Mangut Ikan Pe dari RM Ibu Endang
- Ikan bandeng bakar saus kecap sumbangan tante Mimis-
- Megono sumbangan tante Mimis (makanan khas pekalongan, yaitu cacahan nangka muda dan parutan kelapa dengan berbagai rempah. cita rasanya gurih sedap dan agak pedas)
Makanan/minuman penutup:
- Es buah carica (buah menyerupai pepaya muda dalam kemasan dengan sirup manis. teksturnya chewy dan sangat segar kalau disajikan dingin. biasanya hanya dapat ditemui di sekitar Dieng dan Wonosobo, tetapi tiba2 saya menemukannya dijual di mini market RSPP.)
- Punch home-made sirup buah pala
MY Dad's Bday (the Guest List - Part 2)
1. Oom Putut, living just 5 minutes away from our home, was the first to arrive that night. Oom Putut is a fine architect and my mom's long lost friend that recently reunited and clicked with my dad. Suara oom Putut sangat khas and has that 'edge' dengan aksen Jawa kental yang menyelimuti.
2. Oom Andi Rally Siregar with his lovely wife, tante Ollie came second that night. Mantan bankir senior di bank internasional terkemuka yang kemudian menduduki posisi puncak di salah satu pionir stasiun televisi swasta lokal Indonesia. Dengan track record karir yang begitu hebat, setelah pensiun dia tidak malu-malu mencoba berbisnis MLM yang bergerak di bidang kaplet ajaib penghemat BBM. Papa mama berkenalan dengannya melalui undangan presentasi di rumahnya yang masih terhitung satu RT dengan kami. PEMILU ini oom Andi mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif tanpa melalui perwakilan partai apappun (indpenden). Dengan kesupelan dan kepandaiannya berkomunikasi, mudah2an bukan hanya2 kaplet2 itu yang terjual, namun juga ide2 fantastisnya untuk membuat bangsa ini menjadi lebih baik.
3. Oom Rizal berperawakan agak tambun, hampir setambun ayah saya. Suaranya jika berbicara keras dan lugas khas orang Batak. Jika belum terbiasa, mungkin agak terintimidasi. Namun hatinya lembut tidak skeras penampilannya. Waktu rumah kami di Cipinang dulu diterpa banjir besar di tahun 2002, oom Rizal sekeluarga menampung kami semua di rumahnya selama hampir 3 bulan. Istrinya adalah sahabat ibu saya di masa kuliah hingga kini. Mereka semua tergabung dalam grup pertemanan yang sudah berusia lebih dari 25 tahun dengan iuran arisan 6 bulanan yang tidak berubah dari dulu tidak berubah, yaitu sejumlah RP. 25ribu saja.
4. Oom Imam Prasojo yang malam itu berhalangan hadir digantikan oleh Oom Aristides Katoppo beserta istrinya, Mimis Katoppo. Like Oom Imam, Oom Tides is (also) distant relative of our family. Oom Tides adalah salah seorang tokoh jurnalisme Indonesia yang disegani dan telah menelurkan beberapa buah buku. Beliau pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi Sinar Harapan serta menjadi dosen tamu di John Hopkins University. Pembawaannya santai dan agak nyeleneh. Outspoken, with very smart of sense of humor. Malam sebelumnya, waktu saya menanyakan keberadaan beliau di pernikahan sepupu saya, tante Mimis menjawab, "Oh, oom nyusul ya. Dia tadi lagi diundang nobrol2 sebentar for an afternoon tea di rumah pribadi US Ambassador, biasa lah catching up on the latest policies John (Howard) made".
5. Oom Jendol, sepupu Ibu saya malam itu berhalangan hadir karena diare hebat yang dideritanya sejak beberapa hari sebelumnya. Tidak ada pengganti, karena beliau mengabari di menit2 terakhir. Sehingga tamu ke-5 adalah tamu yang datang terakhir yang juga merupakan celebrity guest (saya mau menyebut tamu kehormatan tapi saya merasa oom2 yang semua hadir malam itu adalah merupakan orang2 terhormat dan untuk menjamu mereka semua malam itu adalah kehormatan bagi saya dan keluarga), pak Bondan Winarno, beserta istrinya Ivonne (oh btw malam itu saya salah menyebut nama Ivonne menjadi Michelle dalam pidato pembukaan saya. malunyaa..)
Need I say more about this guest? Jauh sebelum beliau punya acara televisi dan ngetop dengan the famous remark of "Mak Nyus"-nya, BW adalah wartawan. Beliau adalah penulis lepas untuk berbagai media cetak (Kompas, Tempo, Asian Wall Street Journal to name a few) dan mantan pemimpin redaksi Suara Pembaruan yang kebetulan punya hobi jalan-jalan dan makan-makan. Ia pun menulis mengenai hobinya di kolom Jalansutra, yang kemudian diteritkan menjadi buku. Ayah saya yang memang kolektor buku, mengikuti sepak terjang BW dari dulu. Satu yang saya ingat adalah buku kumpulan cerpen BW yang diterbitkan tahun 80-an. Saya ingat ayah terkesan dengan salah satu cerpen yang ditulis BW di buku tersebut simply karena setting cerpen adalah di Vancouver, Canada, kota yang sangat dicintai ayah saya dan sempat ditinggalinya di awal tahun 80-an. Deskripsi Vancouver di cerpen itu begitu detil, sehingga kerinduannya pada kota itu semakin menjadi.
So there it is.. the guest list. Kandidat celebrity guest yang sempat saya hubungi untuk back up adalah Wimar Witoelar dan Andy F. Noya (from Kick Andy). Saya berhasil bertukar pesan dengan Wimar melalui facebook dan menyatakan keinginannya untuk datang namun beliau sudah terlanjur ada previous arrangement hari itu. Dan Andy Noya, melalui contact person, sedang berada di Jepang hari itu.
Thanks again guys for your help and support in making this happen.
Minggu, 18 Januari 2009
MY Dad's Bday (the 11th of January - Part 1)
Hari ulang tahun ayah jatuh tepat hari minggu yang lalu pada tanggal 11 Januari. Pada akhir pekan itu, seisi rumah saya disibukkan dan 'diobrak-abrik' oleh persiapan pernikahan sepupu saya, lengkap dengan seluruh prosesinya, yang bertempat di rumah saya pada tanggal 9 dan 10-nya. Saya mulai sangsi apakah pada hari Minggu rumah saya sudah beres dan cukup layak untuk menjamu tamu-tamu ayah saya. Terlebih lagi, ibu saya tiba-tiba jatuh sakit diserang demam misterius yang mengarah ke gejala awal typhus. Sungguh rasanya ingin membatalkan saja rencana ini. Apalagi, detil-detil rencana tersebut masih banyak yang bolong. Menu makanan dan tamu yang diundang belum juga fixed, belum memikirkan souvenir dan seating arrangement. Dekorasi. Bunga. Belanja bahan makanan. Haduh! Tapi ibu membesarkan hati saya untuk jalan terus. Pacar saya juga. Namun yang paling membesarkan hati adalah sms yang masuk ke hp saya yang berbunyi: "Hi there, just want to let you know, I'm not forgetting your dad's birthday on Sunday. Greetings from Bandung. BW." Saya sempat gamang. Apakah ini berarti beliau jadi datang? Perasaan lega menyeruak sedikit. Baru saja saya kepikiran untuk mengirim e-mail reminder tapi beliau sudah mengirim sms duluan. Mudah2an ini pertanda baik.
Minggu siang. Kami semua masih cukup lelah dari resepsi malam sebelumnya dan ayah sempat usul jadwal makan siang bersama keluarga siang itu dirubah menjadi makan malam saja. Berbagai alasan saya utarakan, karena saya tetap ingin menjadikan pesta kecil nanti malam kejutan untuk ayah. Makan siang akhirnya baru dimulai sekitar pukul 2, dan hingga 3.30 tak tampak ayah akan segera menyudahinya. Saya mulai panik, karena begitu banyak persiapan yang belum saya lakukan untuk pesta nanti malam. Untung kami memilih restoran dekat rumah. Akhirnya dengan alasan akan menjamu tamu sepupu saya dari Australia nanti malam di rumah, saya dan pacar undur diri. List to do's sore itu mencakup: ke rumah untuk mengecek sejauh mana sisa2 tenda kemarin telah dibereskan, set-up meja makan, membeli bunga dan lilin dekorasi, mengambil pesanan makanan, dan banyak lagi.
Sampai di rumah tenda belum selesai dibongkar dan kolam berenang masih tampak coklat menjijikan. Padahal, jamuan makan malam akan diadakan di teras yang menghadap ke kolam. Belum lagi meja yang akan kami pakai ternyata disimpan di gudang loteng yang sulit dicapai dan untuk mengambilnya akan memakan waktu. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami memutuskan mengadakan acara di dalam rumah, walaupun itu berarti bersebelahan persis dengan pelaminan Minang yang masih belum dibongkar sisa acara kemarin.
I applauded my boyfriend that day for his support and his ability to keep me in place so that I could think clear. Perlahan namun pasti, satu persatu kamipun mencoret poin dalam "to do list" kami. Meja berhasil diturunkan, karpet mulai digelar, makanan mulai terkumpul, bunga dan lililn berhasil didapatkan. Sekitar pukul 5, BW sms saya, "I'm back early from Bdg and now at home. Is it too much of I bring my wife along?". Oh wow, he's really coming!
Saya pun lalu mengkonfirmasi tamu2 yang lain, mengingatkan agar mereka tidak datang lebih dari pukul 7. Tamu pertama datang pukul 18.50. Ayah saya baru saja turun dari kamarnya setelah sempat bersungut-sungut. (Ingat, sejauh ini, sepengetahuan ayah saya adalah ia harus menjamu tamu2 sepupu saya dari Australia). Raut lelah di wajahnya langsung berganti sumringah serta agak bingung saat ia menyambut Oom Putut. Dengan masih terheran-heran ayah sempat memuji tatanan meja makan. Saya lalu pamit ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Sesuai rencana, tamu-tamu mulai berdatangan. Saya sibuk di dapur menyiapkan hidangan, jadi tidak sempat lagi melihat ekspresi ayah. Tepat pukul 19.30 BW menelepon, "Ibu, saya sudah sampai dan ada di depan rumah". Saya menjemput beliau beserta istri ke teras depan dan mengantarnya masuk ke rumah untuk bertemu ayah.
Ayah tampak sangat terkejut, bahagia dan terheran-heran. Hahahahah aduh the moment was so priceless! Setelah saling memperkenalkan diri, saya menghidangkan snack dan minuman pembuka. Lalu sekitar pukul 19.50 saya harus 'membuka' acara dengan memberi pidato sambutan.
Got through the opening speech quite well. Kakak saya juga sumbang sepatah dua patah kata. Lalu ayah juga speech. Yang ga disangka-sangka, semua tamu juga end-up ingin kasih speech semua. Huhuhuhuhuhu menngharuuu biruuuuuu dehhhh suasananya..
Makan malam dibuka dengan soto andalan, lalu disusul dengan makanan2 lain lengkap hingga hidangan penutup. Pacar, kakak dan kakak ipar saya bergantian bertugas menjadi waiter dan witress dadakan sementara saya supervise flownya dari pantry. Hahahahhaah it was quite a chaotic.
Percakapan di meja makan malam itu terlihat lancar, terdengar dari gelegar tawa yang bersahutan. Semua tamu tampak asyik berinteraksi, oh it was such an interesting mix of crowd! Later that nite Ibu saya cerita, papaku yang biasanya tukang bercerita malam itu tampak lebih diam, terpana dan asyik mengobservasi tamu2 spesial di hadapannya berdiskusi, berdebat dan tertawa bersama.
The beautiful nite had to end eventually, saat BW dan istrinya pamit pulang duluan. Everybody exchanged contacts, sementara tim panitia mulai membagikan souvenir untuk tamu2.. Ohhh the whole night felt so surreal.
Papa memeluk saya, sekali lagi berterimakasih.. Beliau berkata, "Kamu tahu tidak nak, betul sekali yang Oom Rally bilang tadi, bahwa pencapaian seseorang itu dalam hidupnya dapat diukur dalam keberhasilannya mendidik anak-anaknya. Papa bersyukur sepertinya di area ini papa telah cukup berhasil mendidik kamu dan mas." Mata saya berkaca-kaca dan sayapun berterimakasih, atas peranannya sebagai ayah terhebat yang dapat dimiliki oleh seorang saya selama 25 tahun ini.. I am very proud to have you as my dad.
Kamis, 01 Januari 2009
Updates on my little dinner project for my dad
Terimakasih teman-teman untuk segala usulan dan bantuannya.. Mudah2an saya bisa merealisasikan proyek ini sebagai hadiah tak terlupakan untuk ulangtahun ayah saya yang ke-60 nanti. Meanwhile, saya masih mencoba Wimar dan Andy.. Thanks again everyone! Happy new year!
The Menu
Menunya haruslah 100% makanan Indonesia, dan kalau bisa, merupakan makanan yang sudah langka dan jarang dapat ditemui sehari-hari. Menu yang sudah fixed so far baru Soto Pekalongan yang merupakan masakan kebangaan keluarga kami atau dikenal juga dengan Tauto, yang resepnya sudah ada di keluarga ayah saya turun temurun. Masakan ini sudah dapat dikatoegorikan langka karena waktu saya dan ayah mengunjungi Pekalongan tahun lalu, susah sekali menemukan penjual yang menjual makanan ini. Ayah geram karena "Mie Bakso" dan "Nasi Goreng" atau "Ayam Goreng Jakarta" justru yang terlihat mendominasi pusat jajanan di kota itu. Saat akhirnya kami menemukan satu penjual Tauto, rasanya tidak memenuhi ekspetasi kami.
Ada yang bisa bantu?
Mungkin masakan yang lama banget ga lo rasain dan cuma lo rasain waktu mudik ke rumah eyang dulu dan lo kangen banget pengen ngerasain lagi. Yang dulu lo sering makan waktu kecil tapi sekarang susah sekali ditemukan? Atau masakan khas daerah lo yang cuma bisa dibikin sama nyokap ato nenek lo atau cuma bisa ditemukan di daerah asalnya? Atau bahkan lo pernah denger tentang cerita sebuah masakan yang begitu dahsyatnya sehingga lo mulai berpikir bahwa itu cuma mitos belaka? Atau simply saran gw bisa berkonsultasi ke siapa atau saran website yang punya database mengenai ini. So far saya baru berusaha masuk ke komunitas makansutra yang dibangun sebagai tribut acara tv Bondan.
Please, please, please.. Again, I will need your help. Yang saya ingin coba lakukan adalah:
1. mencoba menemukan alamat rumah makan yang masih menjual masakan2 langka tersebut ataupun menemui orang yang masih sanggup membuatnya; dan/atau
2. mencoba mencari rsep masakan tersebut dan.. *glek* mencoba membuatnya sendiri; dan/atau
3. jika memang masakan tersebut hanya berada di daerah asalnya maka.. berusaha mencari kerabat yang tinggal di kota itu dan.. mengirimkannya ke Jakarta.
Usulan bisa berupa masakan (main course), snack maupun hidangan penutup hingga minuman..